Oracle Guncang Pasar Cloud: Pasarkan Chip Google TPU, Perluas Kemitraan NVIDIA hingga Skala Multi-Gigawatt
SAN FRANCISCO, 28 Oktober 2026 — Oracle Corp. mengambil langkah strategis yang signifikan dalam persaingan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global. Pada hari Selasa waktu…
SAN FRANCISCO, 28 Oktober 2026 — Oracle Corp. mengambil langkah strategis yang signifikan dalam persaingan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global. Pada hari Selasa waktu setempat (27/10), perusahaan yang berbasis di Austin tersebut mengumumkan perluasan kemitraan dengan NVIDIA sekaligus mendiversifikasi portofolio chipnya dengan menghadirkan prosesor buatan Google dan Cerebras Systems ke dalam layanannya.
Langkah ini menandai pertama kalinya Oracle Cloud Infrastructure (OCI) akan menawarkan Tensor Processing Unit (TPU) milik Google, sebuah unit pemrosesan khusus yang dikembangkan Alphabet untuk mempercepat beban kerja machine learning. Kehadiran TPU Google di OCI juga menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya chip tersebut tersedia di penyedia cloud hyperscale di luar ekosistem Google sendiri.
Ekspansi Skala Multi-Gigawatt dengan NVIDIA
Dalam pengumuman tersebut, Oracle dan NVIDIA mengonfirmasi bahwa OCI akan memperluas kapasitasnya hingga "skala multi-gigawatt" menggunakan server AI generasi terbaru NVIDIA, Vera Rubin. Meskipun nilai kesepakatan tidak diungkap secara resmi, CEO NVIDIA, Jensen Huang, sebelumnya pernah menyatakan bahwa sistem Vera Rubin berpotensi menghasilkan pendapatan hingga $40 miliar per gigawatt bagi pembuat chip tersebut.
Yang menarik, Oracle mengambil langkah diversifikasi internal. Bahkan pada sistem berbasis NVIDIA sekalipun, Oracle akan mengganti sebagian chip networking bawaan NVIDIA dengan chip networking buatan sendiri yang diberi nama "Acceleron". Langkah ini menunjukkan upaya Oracle untuk mengoptimalkan biaya dan integrasi vertikal di dalam pusat datanya.
Strategi Multi-Chip untuk Beban Kerja AI yang Beragam
Keputusan Oracle menghadirkan Google TPU, Cerebras, dan juga chip dari SambaNova Systems (yang didukung Intel) mencerminkan pergeseran lanskap pasar AI. Selama ini, NVIDIA mendominasi pasar pelatihan (training) model AI. Namun, pasar inferensi—proses saat model AI merespons permintaan pengguna—jauh lebih kompetitif dan beragam.
"Beban kerja AI yang berbeda memiliki kebutuhan komputasi yang berbeda," ujar Mahesh Thiagarajan, Presiden Oracle Cloud Infrastructure, dalam sebuah pernyataan. "Pilihan ini memberikan (pelanggan) fleksibilitas untuk memilih infrastruktur yang tepat untuk performa, throughput, dan ekonomi dari setiap beban kerja AI".
CEO Cerebras, Andrew Feldman, menyambut baik kemitraan ini. Ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai "ekspansi besar-besaran basis pelanggan tier-one" bagi perusahaannya. "Kami sedang diterapkan di pusat data milik orang lain dalam skala besar," ujarnya kepada Reuters.
Dampak Pasar dan Tantangan Finansial
Pasar merespons positif pengumuman ini. Saham Oracle (ORCL) melonjak hingga 5% dalam perdagangan hari Selasa, sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 4,12% ke level $131,25 pada pembukaan perdagangan 28 Oktober 2026. Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap posisi Oracle yang kini menjadi satu-satunya penyedia cloud hyperscale yang menawarkan kombinasi chip NVIDIA, Google TPU, dan akselerator AI lainnya secara bersamaan.
Namun, di balik ekspansi agresif ini, Oracle menghadapi tantangan fiskal yang tidak ringan. Perusahaan menargetkan belanja modal (capex) sekitar $90 miliar hingga $95 miliar untuk tahun fiskal 2027. Oracle juga tidak merinci bagaimana pihaknya akan membiayai pembelian chip dalam jumlah masif tersebut, meskipun dalam panggilan pendapatan bulan lalu disebutkan bahwa pelanggan semakin banyak yang menanggung biaya chip secara langsung.
Dengan langkah ini, Oracle secara jelas menantang posisi Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud dalam perebutan pangsa pasar infrastruktur AI. Strategi "multi-chip" yang diusung Oracle bisa menjadi pembeda utama, terutama bagi perusahaan yang ingin menghindari ketergantungan pada satu vendor hardware saja. Namun, eksekusi dan adopsi pelanggan dalam beberapa kuartal ke depan akan menjadi penentu apakah langkah berani ini akan berbuah manis atau justru membebani neraca keuangan perusahaan.